| |
Tulisan Lomba Menulis 4
Berikut tulisan 4 hasil lomba menulis sekolah impian. Jangan lupa untuk memberikan suara anda pada akhir tulisan ini.
Aku memiliki segudang angan, imajinasi dan cita-cita. Tetapi tolong jangan tanyakan apakah itu akan menjadi nyata. Tolong juga, angan, imajinasi dan cita-cita ini semakin tak dapat kuhentikan. Namun aku memiliki satu hasrat untuk menggapai pendidikan. Pendidikan itu akan mengantarku menghentikan angan, imajinasi dan cita-cita. Ya, karena akan terlaksana olehnya sehingga angan, imajinasi dan cita-citaku itu bukan khayalan abstrak semata.Itu dia, pendidikan impianku melalui sekolah yang mulai dari titikku berdiri. Aku tidak peduli entah pandai atau bodoh ia harus sanggup membawaku pada diriku yang terbaik. Entah aku pendiam atau penceria sekolah impianku harus sanggup menjadikan diriku yang terbaik. Entah aku berbakat ilmu sosial atau ilmu alam, sekolah impianku harus menjadikanku yang terbaik. Di titik ini aku memberi diri untuk diobservasi oleh para guru impianku. Merekalah subyek yang kurindukan menggali potensiku. Mereka kurindukan mengenali di mana aku berpijak. Mungkin orang tuaku berkata bahwa aku tak sanggup mendapat nilai 10 dalam pelajaran, tetapi guruku harus mampu menunjukkannya padaku bahwa memang aku sanggup. Guru impianku bahkan kurindukan dapat meyakinkan orang tuaku bahwa aku akan mendapatkan nilai 10. Kemajuan teknologi tak seharusnya menggeser arah pembelajaran. Sarana teknologi canggih telah menggantikan kehadiran guru di depan mata. Ketika aku tidak senang dengan komputer di depanku, aku mematikannya. Dan jika aku mendengarkan orang berbicara di dalamnya tak pula ia komplain terhadapku. Ketika drama di TV sampai pada klimaks mengharukan, aku tak lagi banyak tergugah. Tetapi ketika tetanggaku mengalami hal yang sama, sungguh luar biasa aku terharu. TV itu benda mati tak sanggup menyentuh sisi emosiku yang terdalam. Tetapi tetanggaku itu adalah persamaanku. Jika tiak demikian itu bukan di titik aku berada. Dalam angan awalku tak ada bentuk sekolah pada sarana yang canggih. Entah laboratorium lengkap, dengan elektronik berbasis komputer-internet, atau gedung bersih tinggi dan ber-ac tidak menjadi persoalan penting. Aku menganggap subyek yang terutama. Itu dia, jika guru impianku memiliki pribadi yang khas sebagai pengajar, ketrampilan tinggi menggali potensi, pribadi sosial yang mengabdi pada kemajuan. Itu akan jauh lebih meningkatkan nilai manusia ketimbang sarana itu sendiri. Itu akan jauh lebih cepat menggali potensi yang tertanam dalam diriku. Jika guruku telah dibekali sejuta ilmu bagaimana menggali potensi, pada di sini nilai manusia itu mengalami signifikansi jika diperbadingkan dengan sarana yang adalah benda mati. Metode pembelajaran Yunani Kuno yang terang pada Akademi Plato menjadi andalan angan dan imajinasiku. Di sudut sana, seorang berpakaian non-formal berjalan memegang buku, penuh hasrat, lagi bersemangat. Dengan jalan langkah pelan tapi pasti, membuka diskusi: “Kenapa Kita Harus Belajar?”, Tanyanya. Diala guru impian yang mengingatkan sosok Plato berdiskusi dengan muridnya melalui Tanya jawab sederhana. Lalu akhirnya guru itu mendorong terciptanya jawaban kenapa harus belajar yang kemudian membuatku menciptakan “Alasan Paling Tepat” kenapa aku harus duduk mendengarkannya yang disebut “Belajar”.
Kembali ke halaman sebelumnya.
Sitemap | Tentang saya | Kontak | CariHall of Fame | Preschool Theme
|