Add to My Yahoo!
Add to My MSN
Add to Google


Tulisan Lomba Menulis 6


Berikut tulisan 6 hasil lomba menulis sekolah impian. Jangan lupa untuk memberikan suara anda pada akhir tulisan ini.






Realisasi Sulit, Terbentur Rasa Mules

Saya takut bersekolah di zaman sekarang.

Masalahnya :

1.Saat ini, saya sedang buru-buru mau ke toilet untuk buang air besar. Ya, seperti di saat saya sedang berangkat sekolah (sewaktu saya masih sekolah), hampir setiap hari saya menahan sakit perut selama perjalanan ke sekolah. Maklum, sekolah masuk jam 7. Sedangkan, “panggilan alam untuk menabung” sekitar jam segitu. Meskipun pagi-pagi buta sudah nongkrong, namun tetap tidak keluar. Maaf.

2.Sampai di sekolah, harus bertemu dengan mata pelajaran yang tidak sedikit. Wah, semuanya dipelajari, semuanya lupa juga akhirnya.

3.Pulang sekolah, hari sudah sore. Tapi, masih dikasih banyak PR. Waktu untuk bermain, berkumpul bersama keluarga, sampai waktu untuk membersihkan kotoran hidung, jadi tak ada.

4.Belajar di rumah jadi tidak semangat karena sudah lelah. Yang ada, tidur.

5.Saya jadi tidak mengenal lingkungan sekitar rumah. Sampai-sampai, tetangga tidak tahu kalau saya adalah anak bapak saya. Bisa dimengerti?

Senin sampai jum'at, sekolah. Sabtu, mengerjakan PR yang belum tuntas. Minggu, saya beribadah. Setelah itu, mengerjakan PR yang masih tersisa. Hiperbola? Itu menurut anda. Menurut saya, tidak.

Sebenarnya, masih banyak hal-hal lain yang saya takutkan dari sekolah konvensional. Tapi, berhubung saya sudah semakin terasa ingin “nyetor”, jadi saya to the point saja, ya.

Sekolah Impian Saya :

1.Lokasinya berpindah-pindah. Sesuai mata pelajaran.

2.Pelajaran tidak banyak. Terdapat paket pelajaran yang bisa dipilih siswa.Satu paket hanya terdiri dari 5 pelajaran yang berkaitan dengan lapangan pekerjaan yang dikehendaki untuk masa depan.

3.Sekolah mulai jam sembilan pagi. Selesai pukul tiga sore. Adil bukan?

4.Bersama para Guru yang bisa mengenal murid dengan hati. Mereka peduli dengan keadaan murid. Dan... bisa menangis ketika kita berduka.

5.Teori dua puluh persen. Selebihnya, praktik di kehidupan nyata.

6.Evaluasi tidak dengan soal-soal. Melainkan, hal-hal hebat yang kita lakukan untuk dunia, yang berhubungan dengan mata pelajaran.

7.Ada sebuah alat canggih yang dapat mendeteksi kemampuan kita sesungguhnya. Kita tidak perlu ujian.

8.Akhir, namun bukan yang terakhir, sekolah harus mengajarkan tentang kejujuran, yang di zaman ini sudah menipis.

Itu saja. Saya mau ke toilet dulu.



Kembali ke halaman sebelumnya.


Sitemap | Tentang saya | Kontak | Cari
Hall of Fame | Preschool Theme