Tentang Saya

English


Halo ! Saya Indira. Sebetulnya saya ingin bercerita tentang pengalaman saya homeschool anak-anak, tetapi karena anak saya yang tertua baru berumur 4 tahun, maka ini belum homeschool secara resmi. Akan tetapi, saya memang berniat untuk homeschool mereka.

Saya adalah Ibu dari Don (2002) dan Terry (2005). Waktu Don berumur 2 tahun lebih, kami harus memasukkannya ke preschool. Dia masih terlalu muda untuk itu tetapi pada saat itu tidak ada pilihan lain. Don sangat ketakutan. Dia hanya menangis pada minggu pertama sekolah tersebut. Saya tidak tahan melihat tatapan matanya setiap saya meninggalkannya di sekolah.

Kemudian Terry lahir. Saya mengambil cuti hamil dan Don keluar dari sekolahnya. Dia lega sekali karena tidak harus pergi sekolah lagi. Begitu juga saya.

Ketika saya cuti hamil tersebut, saya bermain dan bermain dan bermain dengan Don. Kami melakukan semuanya bersama-sama. Kami sangat menikmati waktu-waktu bersama kami.

Waktu itu Don berusia 3 tahun. Beberapa teman membicarakan tentang homeschool. Karena mempunyai waktu luang maka saya ingin membaca buku dan buku yang saya pilih adalah buku yang dibicarakan oleh teman-teman saya tersebut "The Well Trained Mind."

Buku tersebut membuat homeschool terasa sangat mudah. OK bukan mudah, tetapi mungkin untuk dikerjakan. Saya perhatikan situasi kami pada saat itu dan saya berpikir, saya sangat menikmati tinggal di rumah dengan anak-anak, Don tidak suka sekolah, jadi kenapa tidak dicoba saja homeschool.

Kemudian saya teringat bahwa saya harus kembali bekerja. OK berarti tidak mungkin homeschool. Saya tidak akan pernah bisa homeschool anak-anak saya. Saat itu ide untuk homeschool tinggallah ide semata.

Suatu hari seorang teman berkata kepada saya bahwa dia pun ingin homeschool anaknya. Padahal anak tersebut belum berusia 2 tahun. Teman saya tersebut menyebutkan buku "How Children Fail." Saya tertarik dan kemudian membaca buku tersebut.

Buku tersebut seperti pembuka mata saya. Sekarang tidak mungkin saya mundur lagi. Saya ingin homeschool anak-anak saya dan saya akan melakukannya, tidak peduli dengan segala alasan lain.

Buku "How Children Fail" itu intinya mengenai bagaimana anak di sekolah bukannya belajar, melainkan bermain strategi agar para guru mengira mereka belajar, bermain strategi agar dapat nilai terbaik. Semua itu mengingatkan saya pada masa saya sekolah.

Saya selalu berada pada ranking teratas di kelas saya. Teman-teman saya selalu berkata bahwa saya anak pintar. Dalam hati saya menyadari bahwa saya tidak pintar, hanya rajin. Saya selalu belajar sebelum ulangan, dan sebagai hasilnya, nilai-nilai saya selalu bagus. Saya memang mempunyai ingatan yang cukup tajam sehingga pelajaran yang memerlukan banyak hafalan dapat saya kuasai. Tapi apakah saya mengerti semua itu ?

Saya ingat bagaimana leganya perasaaan saya ketika lulus SMU. Setelah pengumuman bahwa saya diterima di Universitas pilihan, ada perasaan 'Nah.... selesai sudah semuanya.'

Saya tidak tahu bagaimana perasaan itu bisa ada, tapi seolah-olah tugas belajar saya sudah selesai. Semua orang selalu berkata bahwa kita harus belajar karena bagaimana pun pintarnya seseorang, nilailah yang akan menentukan masuk tidaknya seseorang ke universitas. Jadilah saya murid yang baik dan nilai-nilai saya pun selalu baik. Dan saya pun masuk ke Universitas pilihan saya. Selesai kan ? Tidak...

Masa kuliah saya berlalu dengan lancar. Saya lulus dengan baik dan bahkan melanjutkan ke program pasca sarjana. Tetapi alasannya bukanlah untuk belajar. Saya rasa 12 tahun di sekolah sudah membuat saya seperti 'kebal', kalau saya boleh menggunakan istilah itu. Saya sudah tidak mau belajar lagi, saya tidak tertarik lagi dengan apa yang saya kerjakan. Saya hanya 'melewati' masa-masa kuliah saya.

Ada dua hal yang membantu saya melewati masa kuliah saya. Saya kuliah di luar negeri, di Inggris. Hal itu yang membuat saya bertahan. Kali itu adalah yang pertama saya keluar negeri, yang pertama saya tinggal jauh dari keluarga. Semuanya sangat menyenangkan sehingga saya pun melalui semuanya dengan senang hati. Tapi apakah saya belajar ? Bolehlah saya katakan bahwa saya mempelajari apa-apa yang perlu saya pelajari. Pasca sarjana saya ? Semua dengan alasan yang sama, hanya kali ini di Amerika.

Kemudian saya mendapat pekerjaan yang baik. Pekerjaan yang sesuai dengan bidang saya dengan bayaran yang baik. Tetapi bukan sesuatu yang ingin saya lakukan sampai saya pensiun. Saya tidak ingin hal ini terjadi pada anak-anak saya. Saya ingin mereka menyukai proses belajar, menikmatinya, dan tidak merasa terpaksa untuk belajar.

Satu hal yang saya paling ingat mengenai masa sekolah saya adalah teman-teman saya, bukan mata pelajaran yang diajarkan oleh guru. Persahabatan dengan teman-teman, kegiatan yang kita lakukan bersama, pesta-pesta yang kita datangi, camping, dan lain-lain. Hal-hal tersebut sangatlah berharga, akan saya ingat sepanjang hidup saya. Materi pelajaran di sekolah ? Jujur saya katakan bahwa sebagian besar tidak saya pergunakan lagi, kecuali kemampuan membaca dan matematika dasar.

Saya tidak akan mengatakan bahwa masa sekolah saya terbuang percuma. Tidak, sama sekali tidak. Tapi ada beberapa mata pelajaran yang sama sekali tidak saya pergunakan sekarang. Kimia, matematika tingkat tinggi, sejarah, fisika. OK materi tersebut menambah pengetahuan saya. Saya akui bahwa tahu dan belajar sedikit mengenai hal-hal tersebut dapat membuka wawasan saya. Tapi untuk diuji atas materi tersebut ? Menghafalkan rumus-rumus dan bingung karena mau ulangan ? Saya memang menghafal rumus-rumus tersebut, hanya untuk semalam, sebelum ulangan saja. Setelah itu tidak pernah saya perlukan lagi. Banyak materi pelajaran yang baik untuk diketahui, tapi bila kemudian kita harus diuji, maka itu membuat belajar menjadi tidak menyenangkan.

Saya bisa bercerita panjang dan lebar mengenai masalah ini. Tetapi intinya adalah bahwa saya ingin homeschool anak-anak saya supaya mereka bisa menikmati proses belajar. Jika ada sekolah yang bisa memberikan hal itu pada anak-anak saya, maka saya akan mempercayakan anak-anak pada sekolah tersebut. Bila ada sekolah yang menghargai anak, dan tidak memaksa anak agar menjadi anak yang baik versi mereka, maka saya akan mempertimbangkan sekolah tersebut. Bila ada sekolah yang mengajarkan apa-apa yang diminati oleh sang anak, dan bukan mengajarkan apa-apa yang mereka yakini harus dipelajari oleh sang anak, maka saya akan bolehkan anak saya sekolah.

Sekarang setelah saya yakin akan homeschool anak-anak saya, maka saya membuat situs ini. Harapan saya bahwa saya dapat membantu anda menentukan apakah homeschool itu cocok untuk anak anda, dan untuk membantu anak menikmati anak-anak anda seiring dengan proses mereka mempelajari dunia mereka.

Semua ini akan menjadi proses pembelajaran karena saya sendiri bukan ahli dalam bidang homeschool, saya hanyalah ahli mengenai anak-anak saya sendiri. Anda semua adalah ahli mengenai anak-anak anda. Anda tahu apa yang mereka sukai, apa yang mereka tidak sukai, bagaimana mereka belajar. Andalah guru terbaik dan guru pertama anak anda !

Saya akan menampilkan apa yang sudah saya baca mengenai homeschool dan apa yang anak-anak dan saya kerjakan. Saya harap saya bisa menjawab pertanyaan anda mengenai homeschool, pertanyaan yang sama dengan yang saya punyai ketika saya pertama kali mendengar tentang homeschool.

Happy Homeschooling !



Sitemap | Tentang saya | Kontak | Cari
Hall of Fame | Preschool Theme